tpl_ja_mageia_j15

Sekilas Info
Pengumuman kelulusan di tayangkan melalui website sekolah pada KAMIS, tanggal 3 Mei 2018, pukul 10.00 WIB.
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Home Informasi Berita Cumulus Nimbus (Awan CN)
Cumulus Nimbus (Awan CN) PDF Cetak Email
Ditulis oleh Basuki, S.Pd.   
Selasa, 05 Oktober 2010 14:49
Dampak cuaca ekstrem yang terjadi di Indonesia ini adalah banjir banding dan angina kencang, Angin kencang itu terjadi dari awan Cumulus Nimbus. Cuaca ekstrem hamper terjadi di seluruh daerah di Indonesia.

Umumnya, cuaca ekstrem itu terjadi di darah-daerah konvergensi angina atau belokan angin. Cuaca ekstrem yang terjadi pada masa transisi ini, menurut  pakar cuaca ekstrem BMKG, Kukuh Riburiyanti, sangat erat dengan tekanan udara. Pada masa transisi, isalnya, dari tekanan udara di timur beralih ke penghujan ke tekanan barat menyebabkan kedua tekanan melemah. Selain itu, kondisi air di wilayah local (daerah tertentu) dan kontur permukaan di darat memicu pembentukan awan.

“Bila kondisinya mendukung, pemampatan tekanan udara dan kelembapan juga tinggi, maka terbentuk uap air yang banyak. Lalu, terbentuklah awan Cumulus Nimbus,” jelasnya. Kukuh meningatkan, agar mewaadai bila di pagi hari sangat panas karena dimungkinkan ada potensi siang atau sorenya hujan dan angin kencang. Bahkan, sewaktu-waktu bias angin  puting beliung terjadi walau dalam durasi pendek.
   
Awan Cumulus Nimbus, menurutnya, memang memiliki karakter tertentu. Awan ini disertai petir atau kilat. Bila akumulasinya besar dan tinggi, munculnya adalah angina kencang, putting beliung, bahkan ada pula yang terwujud hujan es.

Menurutnya, kondisi ni akan berangsur turun saar musim penghujaan sebenarnya yang diperkirakaan pada akhir Oktober hingga awal November 2010. suhu yang ada saat ini pun bervariasi di tiap daerah dengan kisaran 23 hingga 34 drajat Celsius.

Factor yang terus diwaspadai adalah pengaruh La Nina yang bias memperburuk cuaca ekstrem. Aspek lainnya yang juga harus diwaspadai adalah siklon tropis di sebelah selatan Pulau Jawa yang bias muncul tiba-tiba di masa penghujan. Masa tumbuhannya siklon tropis ini  adlah dilintang selatan 10 (sebelah barat Darwin atau Perth, Australia).
    Siklon tropis inin membuat curah hujan di sepanjang musim penghujan itu menurun atau ‘beristirahat’. Kondisi ini, kata Kukuh, tampak seperti ada transisi pendek. “Di saat itu bias berpotensi terbentunya awan Cumulus Nimbus dan angina besar walaupun dngan durasi pendek. Pengaruh siklon tropis ini bisa berlangsung sekitar sepekan,” tandasnya. (Diedit dari Republika, 5 Oktober 2010)
 

Pilih Bahasa

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow